Tentang Kami

Pengalaman memberikan kami Inspirasi

Ada satu cerita menarik ketika Kami memandu seorang Petani, dia butuh modal untuk menanam tomat. Petani tidak bisa mengajukan pinjaman ke bank, jadi kami membantu Petani melalui crowdfunding. Setelah diajukan, disepakati dengan skema 3% per bulan untuk jangka waktu 6 bulan tanpa agunan ditambah ponsel android dengan skema diangsur selama 12 bulan.

Setelah 2 bulan berjalan, rumahnya hancur karena tanah longsor. Petani butuh lebih banyak uang untuk pemulihan. Ada 2 pilihan baginya, mencari pinjaman lagi atau menggunakan uang yang dimilikinya dari pinjaman pertama. Dan dia memilih pilihan pertama dengan mencari melalui teman dan keluarganya.

Untuk meningkatkan pendapatan, Petani membutuhkan pasar yang lebih baik agar dapat membayar pinjaman untuk tomat dan pinjaman untuk rumah yang hancur. Kemudian kami memberikan akses langsung ke Pasar Induk, kami juga memberikan pelatihan untuk sortasi dan packing. Hasilnya bagus, dimana pada saat itu harga tomat Rp 1.500 - 2.500 / kg, Petani berhasil menjual dengan harga Rp 3.000 - 5.000 / kg.

Pengalaman tersebut memberikan inspirasi bahwa resiko yang dihadapi petani tidak hanya melulu resiko bisnis akibat gagal panen maupun harga tetapi resiko kehidupan keluarganya yang terganggu oleh pendidikan, kesehatan, maupun bencana alam, kenapa? Karena Petani mayoritas hidup di perdesaan dan tinggal dengan tingkat kesejahteraan yang rendah..

“Kemajuan teknologi harus dapat memberikan manfaat untuk semua kalangan Petani bahkan keluarganya. Dari Tingkat sosial yang paling rendah ke tingkat sosial yang paling Maju. Bukan selektif memilih Petani tetapi harus selektif memberikan referensi petani kepada akses permodalan yang tepat”

Cerita kami diharapkan dapat memberikan inspirasi untuk semua pihak yang ada di Industri Pertanian di Indonesia, dan menegaskan bahwa pelaku Pertanian kita saat ini berbeda jauh dengan pelaku Pertanian di Luar Negeri..

“Target utama harus difokuskan bukan pada peningkatan keuntungan dan produktifitas petani semata, tetapi keberlanjutan melalui kualitas literasi dan inklusi keuangan yang menyentuh keseluruhan keluarga Petani dan Lingkungan Pertanian”

.

Family, Sustainable, and Change